Mencintai Diri Sendiri, Mengapa Tidak?

Pernah merasa jadi orang paling malang sedunia? Pernah merasa nasib memusuhi Anda? Berapa kali? Sekali? Dua kali? Lima kali? Sepuluh kali? Ayolah, jujur sedikit. Ketika terjebak macet, ketika boss memarahi Anda, ketika istri ngomel seharian karena Anda lupa menjemputnya dari supermarket, ketika remaja Anda lagi-lagi pulang dengan bibir pecah dan membawa surat panggilan untuk yang kelima kalinya agar orangtua menghadap Kepala Sekolah ... Banyak bukan? Dan berapa banyak kejadian yang masih menyisakan kepedihan, kemarahan, keputusasaan? Banyak juga? Wah, celaka!

Sekali ini, cobalah untuk tidak menjadikan diri Anda sebagai bulan-bulanan perasaan-perasaan negatif itu. Percayalah, Sang Pencipta tidak pernah menciptakan Anda sekedar untuk menjadi korban kemalangan. Kalaupun sering dikatakan semua permasalahan itu adalah cobaan hidup, maka yakinlah bahwa Dia mencipta Anda sudah lengkap dengan kemampuan untuk mengatasinya. Nah, kenapa Anda tidak mencoba menemukan dan melatih kemampuan itu?

Memiliki kemampuan tersebut berarti Anda memberi cinta Anda pada diri Anda sendiri. Anda memberinya kesempatan untuk menjadi lebih tahan banting dan bisa menikmati hidup. Anda memberinya peluang untuk memunculkan semua potensinya dan tidak menghambatnya dengan keputusasaan, kemarahan, atau kepedihan. Mari, kita mulai dari sekarang!
Menyikapi Pengalaman

Salah satu cara membuat dunia terasa semakin menyenangkan adalah dengan mengembangkan keterbukaan terhadap pengalaman. Mungkin sekarang Anda merasa hidup ini sarat dengan beban atau padat dengan rutinitas yang menjemukan. Nah, taukah Anda bahwa masih ada banyak pengalaman yang belum Anda coba telusuri? Mungkin saja ada sesuatu yang menyenangkan di sana! Kadang manusia sendiri yang menjebak dirinya ke dalam rutinitas atau kejemuan karena enggan mencoba hal-hal baru. Tidak punya waktu, tidak yakin akan berhasil, ”itu kan gak gue banget!” hanyalah rasionalisasi dari ketakutan kita menghadapi pengalaman baru. Mulai sekarang, bangkitkan antusiasme Anda untuk sesuatu yang baru!

Jangan lupa, kembangkan juga banyak perspektif dalam cara pandang Anda dan beri makna baru pada setiap pengalaman. Mengapa ketika di usia bayi hingga dua tahun putra Anda terasa lebih menyenangkan dari usia remajanya kini? Itu karena dulu Anda begitu takjub melihat hal-hal baru yang muncul darinya. Mulai dari ketika pertama kali ia bisa menyebut ”papa mama”, ketika ia menjejakkan langkah pertamanya, ketika ia memamerkan nyanyian pertamanya..., kenangan yang sangat manis bukan? Dan sekarang? Nilai menggambarnya sangat bagus tapi Matematikanya jeblok, seharian mengutak-ngatik sepeda sport, mencuri-curi menelepon gadis tetangga, pulang dengan muka lebam bekas berkelahi, duh! Nah, andai saja Anda mau menggunakan perspektif lain, andai saja Anda antusias memahaminya sebagai proses belajar anak yang tiada henti, pasti perasaan Anda akan berbeda. Bisa jadi dia punya bakat seni, bisa jadi dia punya minat pada keteknikan, bisa jadi dia mulai disentuh yang namanya cinta (meski baru cinta monyet), bisa jadi dia sedang belajar memperjuangkan harga diri. Mengungkap ”pesan” dari setiap kejadian membuat kita menjadi lebih baik dan bijak. Begitu pula untuk pengalaman-pengalaman lainnya, meski betapapun kecilnya. Barangkali dalam perjalanan ke kantor, setiap hari Anda melewati toko buah yang sama. Cobalah untuk menemukan makna baru yang berbeda dari toko buah itu. Mungkin sekarang Anda takjub karena jenis buahnya begitu lengkap, lain kali Anda takjub melihat si pemilik begitu rajin mengelap buah apel satu per satu agar merahnya tampak berkilat menggiurkan. Kemudian di saat lain lagi mungkin Anda bisa tersenyum geli membayangkan anak-anak naga mungil terbatuk-batuk menetas dari dragon fruit ....

Sisi hidup itu jumlahnya tak terkira. Kalau sebagian terasa menyebalkan dan membosankan, yakinlah masih ada jutaan sisi lainnya yang menyenangkan. Semuanya tergantung apakah kita mau terbuka terhadap pengalaman baru dan apakah kita mau memberi makna baru padanya.
Menyikapi Masalah

Salah satu hal yang sering membuat hidup terasa berat adalah masalah. Tapi apa betul demikian? Sesungguhnya yang namanya persoalan adalah lebih pada cara kita memandang masalah. Kita pun selalu enggan mengalami kegagalan dalam menyelesaikan masalah. Semua permasalahan kita anggap sebagai sesuatu yang mestinya ada cara untuk mengubahnya. Cobalah luruskan lagi cara pandang seperti ini. Ada hal-hal yang memang di luar kekuasaan kita. Cuaca misalnya, untuk apa Anda marah-marah karena hari begitu panas sehingga Anda sulit berkonsentrasi menyelesaikan tugas yang terpaksa dikerjakan akhir minggu. Jangan marah pada cuacanya, carilah jalan keluar pada hal-hal yang masih dalam kendali. Misalnya bekerja di teras belakang rumah yang teduh dan sedikit berangin. Jangan juga mengeluhkan orangtua yang mulai pikun karena usia, Anda tidak bisa mengubah usia bukan? Jadi, imbangi masalah dengan kreativitas, jangan terjebak pada cara yang itu-itu saja. Dulu mungkin kalau orangtua kita lupa, cukup kita ingatkan satu kali dan selanjutnya ia akan ingat. Tapi di usia lanjutnya, mungkin tidak cukup dengan mengingatkan secara lisan, harus ada yang mengajak dan mendampinginya untuk benar-benar melakukan hal itu. Nah, Anda bisa melatih putri kecil Anda untuk mengingatkan orangtua beberapa hal, misalnya ”Nenek jangan lupa gosok gigi ya sehabis makan malam ini, kita gosok gigi sama-sama yuk!”.

Jadi jangan terlalu membatasi pikiran, perasaan, dan tindakan kita sendiri. Anda ingat ungkapan ini? ... the patience to endure things that cannot be changed, the courage to change things that can be changed, and the wisdom to distinguish the ones from the others ... Pilah permasalahan, mana yang bisa diubah dan tidak bisa diubah. Kembangkan kegigihan dan kreativitas untuk menyelesaikan hal-hal yang bisa kita ubah, dan tumbuhkan kesabaran hati untuk bisa menerima hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah.

Nah, demikian dua langkah jitu untuk bisa menjalani hidup dengan lebih ringan dan antusias. Menjalankan jurus tersebut sama artinya Anda memberi cinta pada kehidupan. Kehidupan Anda sendiri, diri Anda sendiri!

1 komentar:

March Toding mengatakan...

he patience to endure things that cannot be changed, the courage to change things that can be changed, and the wisdom to distinguish the ones from the others

Nice
www.bimbinganmu.blogspot.com